Siapa yang tak suka dengan liburan ?? Jalan-jalan ke tempat yang diinginkan. Itulah yang menjadi kebanggaan setiap orang, Berlibur untuk menikmati keindahan suatu tempat wisata. Apalagi jika tempat wisata tersebut merupakan tempat-tempat favorit yang telah dikunjungi oleh banyak orang, memiliki ciri khas tersendiri dan keindahan alam yang mempesona. Keindahan alam akan suatu tempat wisata merupakan salah satu alasan untuk menarik wisatawan untuk berkunjung, dinilai dari kebersihan dan kenyaman akan faslitias di tempat wisata tersebut. Seperti tempat wisata yang telah saya kunjungi kali ini.
Liburan Natal dan Tahun Baru kali ini saya bersama keluarga memutuskan untuk berlibur ke tiga tempat sekaligus dalam satu hari. Tiga tempat wisata yang memiliki ciri khas tersendiri dalam menarik minat pengunjung yang datang. Makam Sang Proklamator, Waduk Wonorejo dan Pantai Prigi itulah yang menjadi tujuan kami.
* Makam Bung Karno
Perjalanan pertama pada Hari Sabtu, 27 Desember 2014 membawa rombongan kami untuk pergi ke Jl. Ir. Soekarno Kota Blitar Jawa Timur, tepatnya di Makam Sang Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia Ir. Soekarno. Rombongan tiba sekitar pukul 09.00, suasana lalu lalang pengunjung di pinggiran jalan menuju makam membuat sedikitnya lalu lintas menjadi macet. Ditambah banyaknya pertokoan oleh-oleh khas daerah Blitar di sepanjang jalan tersebut yang juga membuat pengunjung tertarik untuk melihat-lihat. Parkir Mobil yang tidak ditempatkan secara khusus membuat jalanan ini juga semakin penuh dan panas. Gerimis kecil yang mengiringi perjalanan kami kala itu tak membuat kami merasa kecewa, kami langsung memasuki Lokasi Makam Sang Proklamator.
Kesan pertama yang muncul ketika kami melihat bangunan tampak dari depan ialah desain bangunan yang simple dan hampir-hampir mirip dengan bangunan rumah atau museum, maklum memang kunjungan kali pertama kami ke makam Bung Karno. Rasa penasaran membawa kami untuk masuk ke ruang pertama, memang benar dugaan kami sebelumnya, terdapat museum yang cukup besar berisi kenangan manis dan foto haru biru perjuangan Bapak Kemerdekaan kita semasa muda. Kenangan manis di masa muda muda beliau, pertunangan beliau, pernikahan, sampai foto-foto bersama orang tua beliau dipajang secara berurutan dengan nuansa klasik. Foto-foto selanjutnya menampilkan tentang sejarah perjuangan beliau, patung beliau yang dipajang mulai dari area halaman museum, depan pintu masuk museum dan dalam museum itu sendiri. Tak lupa, patung Burung Garuda dan berdera pusaka yang dijahit sendiri oleh Istri Sang Proklamator yaitu Ibu Fatmawati juga menghiasi keanekaragaman sejarah dalam museum itu. Uniknya tidak dikenakan tiket masuk bagi pengunjung yang ingin memasuki museum tersebut, hanya saja para pengunjung dipersilahkan untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan. Pantas saja antusias pengunjung yang datang tak mereda di setiap harinya, selalu banyak pengunjung yang datang untuk menengok sejarah Bung Karno di tempat ini dan kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan keluarga.
Ada yang saya lupakan kala itu didalam museum, letak makam Bung Karno tak terlihat sama sekali, dan ternyata Makam tersebut ada di belakang dalam kompleks ini. Dengan membeli tiket masuk per orang Rp 2000, rombongan kami sudah boleh memasuki area makam. Berbeda dengan desain museum yang tampak seperti museum atau gedung pada umumnya, desain area makam ini lebih luas dan dibentuk seperti pendopo-pendopo dengan hiasan ukiran kayu jati yang menawan. Pengunjung yang ada disekitaran makam juga tak kalah dengan pengunjung museum. Dengan membawa bunga untuk ziarah makam yang ditawarkan para penjual disekitar area pintu masuk makam, pengunjung juga tak lupa untuk menundukan kepala dan memanjatkan doa kepada almarhum, ada juga pengunjungan yang sekedar hanya ingin berfoto-foto dan bersantai di pendopo-pendopo yang telah disediakan. Makam Bung Karno yang diapit oleh kedua orang tua nya membuat naluri kita sebagai pengunjung serasa dekat dengan beliau, menghormati dan menghargai jasa dan pengorbanan sang proklamator RI tersebut.
Tak habis disitu saja, ketika memasuki jalan keluar para pengunjung justru dimanjakan dengan banyaknya penjual aneka kerajinan khas Blitar, Batik, kaos, makanan oleh-oleh dan assecoris lainya. Deretan Penjual yang memenuhi jalan keluar tersebut tak sepi pembeli, rata-rata penjual Batik yang memenuhi deretan perbelanjaan tersebut tak sungkan-sungkan untuk memanggil pengunjung yang lewat dan menawarkan diskon dan harga-harga barang yang mereka jual. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau mulai dari Rp 10000 keatas, barang dagangan mereka laku diserbu oleh beberapa pengunjung yang berminat.
Dalam Perjalanan keluar makam yang cukup panjang dan sesak oleh satu sama lain pengunjung, membuat rombongan kami untuk segera meneruskan perjalanan ke wisata selanjutnya, yaitu Waduk atau Bendungan Wonorejo.
* Waduk Wonorejo
Wisata yang kedua membawa kami ke wisata alam yang menawan. Awalnya minat saya untuk mengunjungi tempat wisata ini tak muncul sama sekali. Dilihat dari namanya yang mungkin menurut saya kurang terkenal atau fenomenal. Cuaca yang amat mendung mengiringi perjalanan kami menuju ke waduk Wonorejo tersebut. Sepanjang perjalanan yang dihiasi dengan pepohonan yang tumbuh menjulang membuat suasana dingin semakin merasuk dan membuat merinding di sekujur tubuh. Bertempat di desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, rombongan kami tiba di tempat wisata tepat pada pukul 13.00. Setibanya di area wisata tersebut hujan yang lumayan deras menyambut kedatangan kami. Kesan pertama yang muncul dalam benak dan naluri kami adalah Keindahan alam yang alami dan tak ternilai harga nya ada dalam waduk ini. Area wisata yang sangat bersih membuat pengunjung terasa nyaman untuk bersantai beberapa saat di area wisata ini. Area parkir yang simple dan bersih membuat kesan bahwa area ini tertata. Penjual bakso tusuk, penjual makanan, tenda untuk beistirahat, dan tenda bagian informasi mengisi area jalanan depan pintu masuk Waduk wonorejo. Waduk yang cukup luas yang dihiasi dengan bangunan jembatan ditengahnya yang disediakan untuk pengunjung membuat pengunjung untuk lalu lalang dan sesekali untuk berfoto bersama rombongan mereka masing masing.
Udara yang dingin-dingin sejuk membuat kami untuk memilih beristirahat di salah satu tenda makan, dan menikmati semangkuk bakso panas yang sedikitnya bisa membantu menghangatkan badan kami. Sehabisnya semangkuk bakso yang dihargai cukup dengan Rp 5000 di tempat wisata, hujan deras yang menyelimuti pemandangan kami mulai reda. Jembatan yang ada diatas waduk tersebut menarik kami untuk berfoto bersama. Tanaman hias yang menelusuri sepanjang jembatan ini membuat kesejukan udara semakin semilir. Pemandangan sekitar yang juga dipelihara dengan bersih dan simple semakin mendukung keindahan alam yang ada. Tak ada sama sekali sampah yang berceceran dalam kawasan ini. Beberapa sampah alami yang berjatuhan juga tak terlintas dalam pandangan mata kami.
Rintik-rintik hujan yang hampir jatuh untuk kedua kalinya membuat kami untuk meneruskan perjalanan ke wisata selanjutnya, perjalanan terakhir kami adalah ke Pantai Prigi, Trenggalek Jawa Timur.
* Pantai Prigi
Menyusuri perjalanan sejauh 30km dari Waduk Wonorejo menuju ke Pantai Prigi membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di tempat wisata tersebut. Suasana yang mulai memasuki senja tak menyurutkan antusias pengunjung yang berdatangan di Pantai tersebut. Pantai Prigi memang pantai yang sudah cukup terkenal yang terletak di desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek Jawa Timur. Setibanya kami pukul 16.30 diperlihatkan dengan Pemandangan di sore hari yang diramaikan oleh perjuangan para nelayan untuk menarik tali tambang pancing ikan mereka untuk diambil hasilnya, gegurauan para pengunjung di pantai dan bermain-main pasir pantai, penjual yang menawarkan barang dagangannya, lalu lalang pengunjung yang datang dan pergi masih cukup memenuhi suasana di sore itu.
Sesekali penjual ikan asap yang juga tak lelah menawarkan barang dagangannya membuat beberapa pengunjung tergoda untuk membeli, termasuk rombongan kami diantara nya. Ikan asap yang terdiri dari ikan tuna dan salmon itu dihargai mulai dari Rp 7000 - Rp 10000 per biji nya. Tak jarang tawar menawar antara pembeli dan penjual itu terdengar disela sela keramaian ombak pantai. Setelah beberapa puluh ikan asap telah kita dapatkan dengan harga jual yang kami inginkan, kami mencoba untuk mencari tempat di pinggir pantai untuk menggelar tikar yang kami bawa dan merasakan olahan bekal masakan yang kami siap kan sejak dari rumah. Semilir udara dan suara gulungan ombak yang berkejaran kami nikmati sembari bersantap sore. Ternyata kerja keras para nelayan belum juga usai, perjuangan mereka untuk menarik tali tambang ikan masih cukup panjang, jika dihitung kira kira dalam satu tarikan mampu menarik setidak nya 2 meter saja dengan kekuatan 7-10 pasang tangan para nelayan untuk dua sisi yang berbeda. Hasil yang didapat juga tak selalu melimpah seperti yang mereka harapkan, itupun mereka harus berbagi hasil sesuai dengan jumlah orang nelayan yang ikut membantu. Pekerjaan yang mereka banggakan demi sesuap nasi dan kehidupan keluarga.
Bantuan dari para pengunjung juga tak henti-hentinya berdatangan, beberapa diantara mereka merasa penasaran dengan kekuatan yang diperlukan oleh nelayan untuk sekali menarik tali tambang tersebut. alhasil menurut beberapa pengakuan pengunjung "Tenaga yang diperlukan sangat banyak dan tali nya berat sekali, tidak seperti yang kita lihat" ungkap yaya pengunjung (27th), "Walaupun hanya sebentar saya sangat lelah, tali nya berat sekali membuat telapak tangan saya panas" tutur Nisa (14th).
Senja mulai menghilang, detik detik adzan maghrib mulai dirasakan oleh rombongan kami. Dengan rasa yang berat untuk mengakhiri liburan kali ini, kami memutuskan untuk pulang dan meninggalkan pantai. Rasa penasaran akan hasil yang didapat oleh nelayan belum juga terjawab, kami harus meninggalkan tempat wisata agar tak terjebak di perjalanan malam yang panjang. Sekitar pukul 17.30 rombongan kami mulai menyusuri pintu keluar, bersama dengan itu pula para pengunjung lainnya juga terlihat sama. Untuk sampai ke rumah yaitu daerah kota Ponorogo, kami setidaknya memerlukan waktu sekitar 3 jam dalam perjalanan. Sambil melihat lihat pemandangan luar dari jendela kaca mobil, kami rasa liburan kali sangat puas. Walaupun tempat wisata yang tidak terlalu mewah, suasana kebersamaan satu sama lain antara keluarga saling terjalin, senda gurau, ocehan cerita, tawa riang terdengar disaat kami berlibur kala itu. Tidak perlu tempat yang mewah dan merogoh kocek dalam-dalam, di setiap tempat wisata yang mempunyai sisi keindahan tersendiri akan mampu membawa kita pada kenyamanan dan kesenangan yang sangat berarti.
Selamat Berlibur !!! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar