Selasa, 30 Desember 2014

Resensi Buku (Novel Legendaris) : Hujan Kepagian

Pelajaran dari Sang Pejuang

Judul buku      : Hujan Kepagian
Pengarang       : Nugroho Notosusanto
Penerbit           : Balai Pustaka
Kota penerbi  : Jakarta
Tahun terbit   : 2004
Tebal buku     : 60 halaman


Hasil sebuah pemikiran dan keterlibatan langsung dalam perjuangan kemerdekaan  yang tertulis dengan gambaran lebih manusiawi. Cerita yang singkat namun kelak sangat membangun suasana haru biru para khalayak sampai denyut nadi yang paling dalam, yang terurai jelas ketika seorang sedia mengupas bagian-bagian kutipan yang terangkai apik. Bukti jelas yang telah dilalui beliau, sastrawan fenomenal berkelahiran Rembang, 15 Juni 1931.

Seorang pejuang negeri Prof. Dr. Nugroho Notosusanto mampu mengurai sudut -  sudut peristiwa pengorbanan dibalik teka – teki sang pembuat nasib yang amat naas, yang pernah beliau alami. Namun dalam ujian yang sangat berat beliau mampu mengangkat derajat dan martabat hidupnya dari sebuah perjuangan hidup dan mati.

Nugroho Notosusanto adalah pribadi yang teguh. Beliau lulusan dari beberapa fakultas yang cukup memikat ribuan pasang mata, yang setaip kali menghasilkan manusia yang berintelektual tinggi, pribadi yang sejati, serta pahlawan bangsa yang dapat menjadi panutan hidup seperti beliau.

Dalam karangannya “Hujan Kepagian” Nugroho mampu memperkuat suatu bukti nyata atas tindakan dalam peristiwa yang pernah dilaluinya. Pengarang yang memperjuangkan harga mati hidupnya dalam sebuah insiden kemerdekaan. Pengorbanan menderunya saat menjadi salah satu tentara veteran patut diacungi jempol.

Beberapa karya tulisnya  yang berupa buku, brosur, dan artikel ilmiah tidak kurang dari 40 judul dan 22 judul ilmiah yang popular dikalangannya. Beberapa dari karangan pendek karya sastrawan handal ini bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, prancis, dan jerman. Beberapa bukti nyata inilah yang telah membawanya ke tangga kesuksesan.

Karangan yang bertajuk perjuangan ini sangat mengandung nilai – nilai moral bangsa. Perjuangan pahlawan Revolusi pada masanya adalah topic panas yang diangkat dan dijadikan sasaran utama tulisan – tulisannya. Hujan Kepagian yang mengandung kesaksian kisah -  kisah revolusi yang mencakup seluruh kejadian tragis sang pengarang.

Pengarang yang menggambarkan dirinya dengan tokoh Nug dalam cerita ini meliki sifat yang teguh. Dalam sekilas karyanya “Senyum” Nug dijelaskan sebagai mantan pejuang yang singgah disuatu peradaban kecil yang menurutnya masih seperti 5 tahun yang lalu. Ketika dirinya bersama tentara-tentara yang lain berjuang keras atas tugas yang begitu berat. Disitulah Nug mengenang segala perjuangannya dengan salah satu sahabatnya Jon yang gugur dalam insiden naas itu. Masih seperti 5 tahun yang lalu pikirnya, segera ia berjalan mengikuti jalan setapak, dihampirinya makam sahabatnya Jon. Nug bersama tentara yang lain begitu heran dengan jasad Jon saat itu yang tersenyum dalam keadaan tubuhnya yang hancur. Apakah yang ada dipikirannya saat itu ? Nug yang mulai bertanya-tanya. Jasad Jon memang telah diketemukan tersenyum. Saat-saat terakhirnya memang dipenuhi dengan gambaran adiknya Tati yang selalu membanggakan Jon sebagai pejuang bangsa, dari situlah Jon yakin bahwa dia akan berjuang mempertahankan hidupnya demi kemerdekaan bangsa agar kehidupan dan masa depan adiknya kelak lebih baik darinya. Karena itulah jasad Jon tersenyum.

Lain lagi dengan Amanat yang tersimpan dalam karyanya “Konyol”. Dalam kisahnya saat di front Nug bertemu dengan sahabat kecilnya Dik yang dulu terlihat lebih kanak-kanak namun sekarang lebih tua darinya. Dik yang lebih gagah dan pemberani, sifatnya pun berbeda seperti yang Nug kenal dulu. Dik yang sekarang sudah dewasa ternyata mempunyai wanita idaman yang Nug rasa dulu Dik tak seperti itu. Nug sedikit kagum dengan sahabatnya. Disitu Dik sedang menyukai salah satu anggota palang merah yaitu Titi, Dik mencoba memperkenalkan Titi kepada Nug. Saat itu Dik dan Nug sedang menghadap komandap sector, beliau memberi amanat kepada mereka, “hidup di front membuat manusia kembali beberapa langkah pada sifat-sifat hewan”, namun hanya Nug yang mau menerina amanat tersebut sedangkan Dik hanya menganggap semua itu konyol. Pada saat itu tepat pukul 12 malam, komandan sector menyuruh mereka untuk mengacaukan musuh, regu Nug dibawah pimpinan Dik, namun tak disangka Dik belum juga datang ke markas, beberapa regu berusaha mencari Dik, tak biasanya Dik melalaikan tugas seperti ini. Nug berusaha mencari Dik di Palang Merah, pikirnya ia bersama Titi saat itu, setelah sampai disana Nug sangat terkejut melihat keadaan rambut Titi yang acak-acakan, mereka berdua terlihat keluar dari dalam rumah, Nug sangat kecewa dengan perbuatan Dik terhadap Titi. Nug merasa bahwa Dik telah melalaikan amanat dari komandan sector. Saat itu Titi merasa sedih dan ia berusaha melarang Dik pergi melaksanakan tugas, karena Titi kemarin malam bermimpi Dik akan tewas. Namun itu semua konyol bagi Nug dan Dik. Tak dirasanya setelah sampai di markas setelah selesai melaksanakan tugas, Nug tidak melihat Dik sama sekali, ia bersama anggota regu yang lain segera mencari Dik, namun tak disangkanya Dik diketemukan telah tewas dengan jasad yang mengenaskan. 3 bulan setelah kematian Dik, Nug tahu bahwa Titi hamil.
Penggambaran tokoh sekaligus penokohan dalam setiap cerita begitu jelas. Watak yang dimiliki setiap perorangan dalam cerita dijabarkan secara detail. Pengucapan kata, dialog yang tersusun semakin memperkuat nilai – nilai karakteristikal.

Permainan setiap kata yang diukir menjadi untaian yang padu begitu asyik meresap dalam kalbu para pembaca. Makna dari setiap peraduan nasibnya hampir merasuk lekat hingga menggandeng ke dunia aslinya. Menjamahi getir – getir kepedihan yang dirasakan sang pejuang. Sangat terasa Derap rintihan namun sangat berkobar, derai tangis yang memikat, keberhasilan yang terurai, luka yang amat pedih, kulit yang perlahan mengelupas tak merendahkan semangat kesatuan. Dorongan, Keharuan dan kelemahan sanak saudara menjadi senjata ampuh sekaligus kekuatan bagi mereka.

Pengalaman revolusi begitu bermakna, pengarang tidak hanya menunjukkan sisi perjuangan namun makna dari sebuah tulisan dan peristiwa nyata yang dapat kita ambil sebagai panutan dalam segala kehidupan didunia, kerja keras dan semangat persatuan mampu menggelakkan hati untuk saling menghargai dan menghormati setiap usaha yang timbul dari naluri. Menghargai setiap kehidupan, setiap nafas yang berhembus adalah kekuatan untuk terus bertahan. Mengemban amanat seperti halnya melahiran kehidupan baru yang harus terjaga hingga dewasa. Mengaplikasikan setiap pengalaman untuk perbaikan dan tolak ukur agar tidak terjerumus dalam keterpurukan. Setiap suatu hal yang muncul dari harga diri seorang mewakili dari semua perilaku hidup sifat duniawi manusia. Pujian yang tersanjung akan membawa kesan, sifat patriot dan pantang menyerah yang akan timbul perlahan walau tak dirasakan namun akan membawakan keindahan bagi orang tertentu.

Peraasan yang timbul karena adanya niat dan kerja keras yang membutuhkan hasil maksimum. Apresiasi sang penulis dalam hal memaparkan kisah nyata hanya semata-mata untuk mendapatkan penghormatan dari setiap insane atas karyanya. Perjuangan yang tak akan pernah dilupakan oleh setiap generasi penerus.

Karangan Notosusanto mampu menggetarkan benih-benih jiwa yang belum tertanam menjadikan gejolak untuk sebuah impian untuk masa yang akan datang. Berusahalah untuk memperkaya ilmu dengan mengisi petuah-petuah yang merasuk kelak dalam fikiran dan hati. Karya ini mampu memikat seorang karena makna berisikan segala kekuasaan yang ada didunia. Cerita revolusi yang singat ini patut untuk dikuasai Karena permainan kata yang begitu menyentuh, memikat dan memberikan daya tarik tersendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar