Pelajaran dari Sang
Pejuang
Judul
buku : Hujan
Kepagian
Pengarang : Nugroho
Notosusanto
Penerbit : Balai
Pustaka
Kota penerbi : Jakarta
Tahun
terbit : 2004
Tebal
buku : 60
halaman
Hasil
sebuah pemikiran dan keterlibatan langsung dalam perjuangan kemerdekaan yang tertulis dengan gambaran lebih
manusiawi. Cerita yang singkat namun kelak sangat membangun suasana haru biru
para khalayak sampai denyut nadi yang paling dalam, yang terurai jelas ketika
seorang sedia mengupas bagian-bagian kutipan yang terangkai apik. Bukti jelas
yang telah dilalui beliau, sastrawan fenomenal berkelahiran Rembang, 15 Juni
1931.
Seorang
pejuang negeri Prof. Dr. Nugroho Notosusanto mampu mengurai sudut - sudut peristiwa pengorbanan dibalik teka –
teki sang pembuat nasib yang amat naas, yang pernah beliau alami. Namun dalam
ujian yang sangat berat beliau mampu mengangkat derajat dan martabat hidupnya
dari sebuah perjuangan hidup dan mati.
Nugroho
Notosusanto adalah pribadi yang teguh. Beliau lulusan dari beberapa fakultas
yang cukup memikat ribuan pasang mata, yang setaip kali menghasilkan manusia
yang berintelektual tinggi, pribadi yang sejati, serta pahlawan bangsa yang
dapat menjadi panutan hidup seperti beliau.
Dalam
karangannya “Hujan Kepagian” Nugroho mampu memperkuat suatu bukti nyata atas
tindakan dalam peristiwa yang pernah dilaluinya. Pengarang yang memperjuangkan
harga mati hidupnya dalam sebuah insiden kemerdekaan. Pengorbanan menderunya
saat menjadi salah satu tentara veteran patut diacungi jempol.
Beberapa
karya tulisnya yang berupa buku, brosur,
dan artikel ilmiah tidak kurang dari 40 judul dan 22 judul ilmiah yang popular
dikalangannya. Beberapa dari karangan pendek karya sastrawan handal ini bahkan
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, prancis, dan jerman. Beberapa bukti
nyata inilah yang telah membawanya ke tangga kesuksesan.
Karangan
yang bertajuk perjuangan ini sangat mengandung nilai – nilai moral bangsa.
Perjuangan pahlawan Revolusi pada masanya adalah topic panas yang diangkat dan
dijadikan sasaran utama tulisan – tulisannya. Hujan Kepagian yang mengandung
kesaksian kisah - kisah revolusi yang
mencakup seluruh kejadian tragis sang pengarang.
Pengarang
yang menggambarkan dirinya dengan tokoh Nug dalam cerita ini meliki sifat yang
teguh. Dalam sekilas karyanya “Senyum” Nug dijelaskan sebagai mantan pejuang
yang singgah disuatu peradaban kecil yang menurutnya masih seperti 5 tahun yang
lalu. Ketika dirinya bersama tentara-tentara yang lain berjuang keras atas
tugas yang begitu berat. Disitulah Nug mengenang segala perjuangannya dengan
salah satu sahabatnya Jon yang gugur dalam insiden naas itu. Masih seperti 5
tahun yang lalu pikirnya, segera ia berjalan mengikuti jalan setapak, dihampirinya
makam sahabatnya Jon. Nug bersama tentara yang lain begitu heran dengan jasad
Jon saat itu yang tersenyum dalam keadaan tubuhnya yang hancur. Apakah yang ada
dipikirannya saat itu ? Nug yang mulai bertanya-tanya. Jasad Jon memang telah
diketemukan tersenyum. Saat-saat terakhirnya memang dipenuhi dengan gambaran
adiknya Tati yang selalu membanggakan Jon sebagai pejuang bangsa, dari situlah
Jon yakin bahwa dia akan berjuang mempertahankan hidupnya demi kemerdekaan
bangsa agar kehidupan dan masa depan adiknya kelak lebih baik darinya. Karena
itulah jasad Jon tersenyum.
Lain
lagi dengan Amanat yang tersimpan dalam karyanya “Konyol”. Dalam kisahnya saat
di front Nug bertemu dengan sahabat kecilnya Dik yang dulu terlihat lebih
kanak-kanak namun sekarang lebih tua darinya. Dik yang lebih gagah dan
pemberani, sifatnya pun berbeda seperti yang Nug kenal dulu. Dik yang sekarang
sudah dewasa ternyata mempunyai wanita idaman yang Nug rasa dulu Dik tak
seperti itu. Nug sedikit kagum dengan sahabatnya. Disitu Dik sedang menyukai
salah satu anggota palang merah yaitu Titi, Dik mencoba memperkenalkan Titi
kepada Nug. Saat itu Dik dan Nug sedang menghadap komandap sector, beliau
memberi amanat kepada mereka, “hidup di front membuat manusia kembali beberapa
langkah pada sifat-sifat hewan”, namun hanya Nug yang mau menerina amanat
tersebut sedangkan Dik hanya menganggap semua itu konyol. Pada saat itu tepat
pukul 12 malam, komandan sector menyuruh mereka untuk mengacaukan musuh, regu
Nug dibawah pimpinan Dik, namun tak disangka Dik belum juga datang ke markas,
beberapa regu berusaha mencari Dik, tak biasanya Dik melalaikan tugas seperti
ini. Nug berusaha mencari Dik di Palang Merah, pikirnya ia bersama Titi saat
itu, setelah sampai disana Nug sangat terkejut melihat keadaan rambut Titi yang
acak-acakan, mereka berdua terlihat keluar dari dalam rumah, Nug sangat kecewa
dengan perbuatan Dik terhadap Titi. Nug merasa bahwa Dik telah melalaikan
amanat dari komandan sector. Saat itu Titi merasa sedih dan ia berusaha
melarang Dik pergi melaksanakan tugas, karena Titi kemarin malam bermimpi Dik
akan tewas. Namun itu semua konyol bagi Nug dan Dik. Tak dirasanya setelah
sampai di markas setelah selesai melaksanakan tugas, Nug tidak melihat Dik sama
sekali, ia bersama anggota regu yang lain segera mencari Dik, namun tak
disangkanya Dik diketemukan telah tewas dengan jasad yang mengenaskan. 3 bulan
setelah kematian Dik, Nug tahu bahwa Titi hamil.
Penggambaran
tokoh sekaligus penokohan dalam setiap cerita begitu jelas. Watak yang dimiliki
setiap perorangan dalam cerita dijabarkan secara detail. Pengucapan kata,
dialog yang tersusun semakin memperkuat nilai – nilai karakteristikal.
Permainan
setiap kata yang diukir menjadi untaian yang padu begitu asyik meresap dalam
kalbu para pembaca. Makna dari setiap peraduan nasibnya hampir merasuk lekat hingga
menggandeng ke dunia aslinya. Menjamahi getir – getir kepedihan yang dirasakan
sang pejuang. Sangat terasa Derap rintihan namun sangat berkobar, derai tangis
yang memikat, keberhasilan yang terurai, luka yang amat pedih, kulit yang
perlahan mengelupas tak merendahkan semangat kesatuan. Dorongan, Keharuan dan
kelemahan sanak saudara menjadi senjata ampuh sekaligus kekuatan bagi mereka.
Pengalaman
revolusi begitu bermakna, pengarang tidak hanya menunjukkan sisi perjuangan
namun makna dari sebuah tulisan dan peristiwa nyata yang dapat kita ambil
sebagai panutan dalam segala kehidupan didunia, kerja keras dan semangat
persatuan mampu menggelakkan hati untuk saling menghargai dan menghormati
setiap usaha yang timbul dari naluri. Menghargai setiap kehidupan, setiap nafas
yang berhembus adalah kekuatan untuk terus bertahan. Mengemban amanat seperti
halnya melahiran kehidupan baru yang harus terjaga hingga dewasa.
Mengaplikasikan setiap pengalaman untuk perbaikan dan tolak ukur agar tidak
terjerumus dalam keterpurukan. Setiap suatu hal yang muncul dari harga diri
seorang mewakili dari semua perilaku hidup sifat duniawi manusia. Pujian yang
tersanjung akan membawa kesan, sifat patriot dan pantang menyerah yang akan
timbul perlahan walau tak dirasakan namun akan membawakan keindahan bagi orang
tertentu.
Peraasan
yang timbul karena adanya niat dan kerja keras yang membutuhkan hasil maksimum.
Apresiasi sang penulis dalam hal memaparkan kisah nyata hanya semata-mata untuk
mendapatkan penghormatan dari setiap insane atas karyanya. Perjuangan yang tak
akan pernah dilupakan oleh setiap generasi penerus.
Karangan
Notosusanto mampu menggetarkan benih-benih jiwa yang belum tertanam menjadikan
gejolak untuk sebuah impian untuk masa yang akan datang. Berusahalah untuk
memperkaya ilmu dengan mengisi petuah-petuah yang merasuk kelak dalam fikiran
dan hati. Karya ini mampu memikat seorang karena makna berisikan segala
kekuasaan yang ada didunia. Cerita revolusi yang singat ini patut untuk
dikuasai Karena permainan kata yang begitu menyentuh, memikat dan memberikan
daya tarik tersendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar