Minggu, 14 Desember 2014

Profil/ Sosok : Sosok Ayah Untuk Keluarga dan Sekitar

Ponorogo, 7 April 1948 tepat 64 tahun yang lalu beliau lahir kedunia, lahir dari seorang Ayah dan Ibu sebutlah H. Topuro dan Hj. Surip, Beliau adalah Samsuri anak kedua dari tujuh bersaudara yaitu Surati, Senen, Hartono, Hartini, Supriyanto, dan Lilik Sudaryati. Bapak Samsuri dikenal dengan sosok yang pekerja keras dan teguh pendirian baik dalam kehidupan maupun agama. Semasa hidupnya beliau bekerja keras demi membantu orang tua nya, membantu menghidupi adik-adiknya dan bahkan beliau sampai merelakan untuk tidak meneruskan sekolah demi membanting tulang mengurusi kebun keluarga dan hewan ternak orang tuanya.
Sewaktu muda Bapak Samsuri aktif mengikuti organisasi islam yaitu Muhammadiyah, beliau juga tergabung dalam organisasi seni bela diri yaitu Tapak Suci. Semenjak kecil beliau selalu ditanamkan nilai-nilai agama oleh orang tua nya, walaupun beliau tidak melanjutkan sekolah namun pengetahuan beliau tentang agama mendorong beliau untuk menjadi guru mengaji di lingkungan rumah beliau. 
Pendirian yang keras dan teguh akan sesuatu hal membuat beliau menjadi panutan bagi adik-adiknya. Senang bergaul dengan dunia sekitar dan teman-teman beliau, membawakan berkah tersendiri bagi adiknya. Berkat teman yang banyak, Bapak Samsuri bisa meneruskan pendidikan adik bungsu nya ke jenjang perguruan tinggi sampai bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil hingga sekarang, dan karena perngorbanan beliau yang cukup besar untuk keluarga, sampai-sampai beliau tidak memperdulikan pekerjaannya sendiri. Jalan hidupnya tertuju untuk menjadi seorang Petani yang mengurusi sawah orang tuanya.
Bapak Samsuri memutuskan untuk menikah pada umur sekitar 30tahun dan pilihan hidupnya tertuju pada Ibu Marsini. Ibu Marsini (Ponorogo, 30 Juni 1959) kala itu masih seorang Gadis yang berumur sekitar 20tahun. Namun jarak umur yang jauh antara keduanya tak membuat Ibu Marsini menolak Bapak Samsuri. Itu lah Jodoh tidak mengenal siapa, kapan dan umur berapa. 
Menikahi Ibu Marsini merupakan berkah tersendiri bagi Bapak Samsuri, keduanya dianugrahi anak oleh Allah SWT sebanyak delapan anak perempuan, mereka adalah Suciati, Rumaidah, Khotimah, Yahya, Nuzul Lailly, Kholifatul Azizah, Usmaul dan Fatma Annisa. Cucu pertama dengan nama Andarda Shidqinan Nafil lahir dari anak keempat yaitu Yahya, dan satu lagi cucu laki-laki dengan nama Radinudasta Assadadin Taqi lahir dari anak pertama yaitu Suciati. Mendapatkan kedua cucu laki-laki merupakan nikmat dan berkah bagi Bapak Samsuri dan Ibu, kehadiran anak laki-laki yang sejak dulu dinantikan bisa tergantikan dengan hadirnya kedua cucu tersebut dalam kehidupan mereka.
Bekerja keras sebagai Petani dengan istri penjual nasi di warung, tak memutuskan harapan keduanya untuk menyekolahkan anak-anak nya ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau berharap anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan beliau. Beberapa anak yang lulusan SMA dan lulus S1 sekarang telah mendapatkan pekerjaan yang layak, dan semua itu didapatkan berkat pengorbanan, kerja keras, doa dan kasih sayang orang tua. 
Gemar bercerita dan mendongeng cerita sejarah ataupun pewayangan, itulah salah satu hobi yang selalu dilakukan oleh Bapak Samsuri ketika bersantai dengan keluarga maupun warga sekitar rumah. Menanamkan nilai-nilai agama di setiap cerita dan sisi humoris yang kadang muncul untuk mencairkan suasana itulah yang selalu menjadi kebiasaan beliau dalam rumah.
Namun dalam kehidupan manusia, tak hanya manis yang dapat dirasakan, pahit yang sesekali muncul ini juga dirasakan oleh Bapak Samsuri namun terhitung dengan kurun waktu yang cukup lama. Siapa yang tak pernah merasakan sakit, Bapak Samsuri kala itu menderita penyakit Syaraf, sering kelelahan, pingsan dan lupa akan sesuatu hal itulah yang mendorong beliau untuk berhenti berkerja untuk keluarga. Keluarga sangat memaklumi akan penyakit yang diderita beliau, hampir 8 tahun Beliau menderita penyakit tersebut. Berbagai pengobatan dari dokter maupun alternative sudah dilakukan secara terus-menerus, namun kesembuhan pun juga tak kunjung reda.
Tidak hanya diam merasakan sakit yang diderita, Bapak Samsuri kala itu lebih sering memberikan nasihat-nasihat agama dan sejarah-sejarah agama untuk dijadikan pedoman hidup kepada keluarga, sahabat beliau maupun warga sekitar yang sesekali main kerumah. Petuah-petuah yang beliau berikan kepada orang lain tersebut justru menjadikan obat bagi beliau sendiri, amalan yang beliau lakukan menjadikan penyakit yang diderita perlahan-lahan sembuh dan jarang kambuh. Namun kehendak Allah SWT berkata lain, kehidupan manusia didunia ini ditakdirkan ada datang ke dunia dan meninggalkan dunia. 
Tepat pada tanggal 8 Januari 2013 pukul 14.00 beliau meninggalkan keluarga tercinta. Beberapa bulan sebelum kepergian beliau, sakit yang diderita beliau dalam waktu yang cukup lama tersebut seketika menghilang dan tak dirasakan lagi. Kepergian seorang Bapak yang berjiwa pemimpin, datang secara tiba-tiba dan menjadi sebuah pukulan yang amat mendalam bagi keluarga tercinta. Beberapa anak yang merantau untuk berkerja dan bersekolah dikejutkan dengan kabar tersebut, tangis haru seketika meluap merasakan sosok yang selama ini menjadi panutan hidup.
Tak ada manusia yang mampu melawan takdir sang Maha Kuasa, sosok Fisik Bapak Tercinta yang selalu didambakan keluarga kini telah tiada, namun keluarga selalu bangga nama beliau, amalan, dan cinta kasih beliau terhadap keluarga akan selalu dikenang selama-lamanya. Jiwa kepemimpinan yang diberikan dan nilai agama yang menjadi pedoman hidup akan selalu diingat bagi keluarga tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar