Kamis, 25 September 2014

Artikel Bebas : Doa untuk Ayah

Sebuah cerita dari keluarga besar dengan penuh kesederhanaan. Keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan delapan anaknya perempuan. Suatu ketika keluarga ini dirundung masalah, masalah antara bapak dan keluarga bapaknya.
Masalah yang dialami tersebut cukup besar sampai penyelesaiannya pun dibawa ke pihak pengadilan. Singkat cerita masalah tersebut selesai namun tak membawa hasil yang menyenangkan bagi pihak bapak. Akibat masalah ini lah pribadi bapak yang terkenal sebagai sosok yang ramah dan menyenangkan bagi orang lain hilang begitu saja, bapak menjadi lebih arogan (sering marah) bahkan sampai sampai berani meluapkan emosi nyakepada orang lain.
Hari demi hari, bulan demi bulan kehidupan keluarga ini semakin kurang harmonis, sosok bapak yang amat sayang dan memperhatikan 8 anak nya ini semakin hilang. Jiwa bapak yang seharusnya menjadi panutan bagi istri dan anak-anaknya tiba-tiba digantikan dengan sosok yang temperamental. Tidak tahu kenapa? Apa mungkin ini semua akibat masalah yang terjadi di keluarga asal bapak, hingga menyebabkan keluarga ini tak saling rukun ?? dan bapak menjadi sosok yang pendendam.
Ketakutan demi ketakutan sang anak-anak ini kepada bapak nya sendiri semakin meningkat, bahkan untuk tidur dirumah saja mereka amat ketakutan. Sang ibu pun juga begitu, bahkan beliau sasaran emosi paling banyak.
Tak henti-hentinya beberapa diantara anak berusaha menyadarkan sang bapak, mereka bilang bahwa sesungguhnya sifat dendam itu tidak ada manfaatnya. Tetapi bapak tetap saja mengelak, sampai suatu ketika bapak menderita sakit parah, kurang lebih sampai 8 tahun lamanya. 8 anak ini saling bergotong royong untuk membantu mengobatkan sang bapak. Hampir seluruh dokter saraf di daerah nya itu di kunjungi, pengobatan alternative, bahkan sampai jamu tradisonal itu dicoba untuk mengobati penyakitnya. Tetap saja gagal dan tidak menemukan hasil yang maksimal, penyakit bapak masih sering saja kambuh. Sakit yang diderita nya tak membuat sifat bapak berubah menjadi baik lagi, justru ketika beberapa anak mengingatkan bapak untuk tobat, menghilangkan sifat dendamnya, bapak kembali emosi.
Bapak adalah seorang yang rajin ibadah dan menjunjung tinggi kejujuran bagi hidup nya. Karena penyakitnya tersebut bapak tidak bisa lagi bekerja. Semakin hari beliau semakin menyadari kesalahannya dan mulai kembali seperti bapak yang dulu, bahkan beliau menjadi lebih ramah dan baik kepada orang lain. Beliau sering memberikan nasihat tentang agama kepada orang lain, memberikan segala nasihat yang baik kepada orang sekitar. Karena perubahan sifat inilah, penyakit beliau sudah semakin sembuh dan bahkan emosi sama sekali tidak muncul lagi pada sosok beliau.
Pada suatu ketika bapak ini berkata pada sang ibu “jika aku diambil sewaktu-waktu aku siap, insyallah aku sudah punya pengangan agama yang cukup”, “aku tidak punya uang, tapi aku masih punya ilmu yang bermanfaat bagi orang lain”. Mendengarkan kata-kata ini beberapa anak dan ibu cukup terharu dan berusaha untuk mengalihkan pembicara. Tapi kata-kata tersebut sering kali diulang-ulangi oleh beliau ketika ngobrol dengan keluarga.
Bulan demi bulan bapak semakin menjadi pribadi yang baik dan disegani oleh warga disekitarnya. Pada waktu itu 8 januari 2013, pagi hari bapak duduk didepan rumah, setiap tetangga yang lewat selalu disapa dan diminta untuk mampir, tetapi tidak ada yang meluangkan waktu untuk bapak. Cuaca yang semula panas menyengat tiba-tiba berubah menjadi dingin, bapak tiba-tiba masuk angin, dan dibawa masuk oleh ibu, pada saat itulah sang bapak menghembuskan nafas terakhir nya tepat dipangkuan sang ibu.
Keadaan ini membuat seluruh keluarga kaget dan terharu, sosok bapak tiba tiba meninggalkan keluarga untuk selamanya. Apalagi pada waktu itu beberapa anak tidak ada dirumah mendampingi ibu saat ditinggal oleh bapak. Haru biru tangis sungguh sangat menumpuk. Tidak menyangka bahwa beliau sudah tiada.
Bapak meninggal pada tanggal 8 tepat dengan jumlah 8 anaknya. Yallah apa ini sudah takdirmu. Benar-benar tidak terduga. Tapi yang membuat lebih terharu yaitu menurut cerita tetangga sebelum bapak meninggal, sekitaran daerah tersebut cuacanya menjadi dingin dan mencium bau yang sedap. Dan di lain cerita, keluarga yang jauh bahkan juga merasakan hal yang sama dan bermimpi mengenai bapak.
Hal yang menurut saya paling menginspirasi adalah, ketika hidup seseorang tidak lagi berguna bagi keluarga nya sendiri, jangan pernah menyerah banyak kebaikan yang bisa dilakukan, materi bukanlah segalanya, ilmu yang bermanfaat justru menjadi amal jariyah seseorang kelak di akhirat. Jangan pernah menyia-nyiakan orang disamping kita, apalagi bapak kita sendiri, belum tentu kita diberi waktu cukup untuk membahagiakan beliau. Dan sebelum meninggal, bapak sempat berkata terima kasih sebanyak-banyak kepada istri dan anak-anaknya karena mau bersabar merawat beliau dan bergotong-royong untuk mencari dana untuk pengobatan beliau.
Cerita ini akan saya kenang sampai kapanpun, dan semoga cerita ini akan menginspirasi hidup saya untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, selalu mengingat pesan bapak “jadilah orang yang jujur, berani dan selalu bermanfaat bagi orang lain”, bapak juga berpesan “untuk melakukan sesuatu hal apapun selalu baca bismillah, dan jadilah orang yang berani, jangan takut jika kita benar”. Sampai sekarang kata kata tersebut masih menancap dihati saya. Jika boleh saya mengucapkan “ Bapak, saya minta maaf sebesar-besarnya saya menyesal telah menghiraukan bapak selama ini, sekarang saya bangga mempunyai bapak seperti bapak, terima kasih telah menjadi bapak terbaik buat saya, saya minta maaf belum bisa membalas kasih sayang bapak selama ini, tapi insyallah saya akan menjadi orang seperti yang bapak inginkan dan bapak pesan selama ini. Ibu dan Kami ber 8 selalu berdoa buat bapak, insyallah bapak mendapatkan tempat yang paling baik di sisi-Nya I love you bapak. Bapak akan selalu di pikiran kita, di hati kita, dan di setiap doa kita. I miss youuuu :*
Sedikit puisi untuk Ayah...
Tegak berdiri diatas kaki
Kerahkan jiwa raga untuk yang tercinta
Ayah, tanpa lelah, tak pernah menyerah
Kini kau mulai menua, Tubuhmu mulai renta
Saat itu jua kau direngkuh kesakitan
Kau yang makin rapuh, makin tak mampu
Ketika benda kecil pahit itu
Tak lagi mampu sebagai penyembuhmu
Kau hanya diam
Terkulai lemas diatas tempat tidur empukmu
Ayaaaaaahhh ?
Apa aku boleh egois ?
Ku ingin temuimu di surga
Melepas rindu yang selama ini membebatku
Ketika surat kecil kukirim pada Tuhan
Hanya untukmu seorang
Kulantunkan ayat suci demi menghantarkanmu pada kebahagiaan kekal
Membawa dalam ketenangan
Ditempat indah yang menentramkan
By 8 belove daughter's

Tidak ada komentar:

Posting Komentar